<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>

<channel>
	<title>Polling Center</title>
	<atom:link href="http://www.polling-center.com/feed/_lang/id/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.polling-center.com</link>
	<description>Marketing and Social Research</description>
	<pubDate>Tue, 15 Jun 2010 06:46:10 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.6.2</generator>
	<language>id</language>
			<item>
		<title>Pecinta Gaul</title>
		<link>http://www.polling-center.com/thoughts/the-great-socializers/_lang/id/</link>
		<comments>http://www.polling-center.com/thoughts/the-great-socializers/_lang/id/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Jun 2010 06:46:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Thoughts]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.polling-center.com/?p=512</guid>
		<description><![CDATA[Pecinta Gaul
Mayoritas masyarakat urban dewasa  mulai aktif berorganisasi sejak masa    sekolah, mulai dari organisasi kepramukaan dan klub olahraga hingga    organisasi siswa intra sekolah,  koran sekolah dan kelompok rohani.    Ketika dewasa, kebanyakan dari mereka berpartisipasi dalam    kegiatan-kegiatan  kelompok.

Tiga perempat dari masyarakat urban   [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pecinta Gaul</strong><br />
Mayoritas masyarakat urban dewasa  mulai aktif berorganisasi sejak masa    sekolah, mulai dari organisasi kepramukaan dan klub olahraga hingga    organisasi siswa intra sekolah,  koran sekolah dan kelompok rohani.    Ketika dewasa, kebanyakan dari mereka berpartisipasi dalam    kegiatan-kegiatan  kelompok.</p>
<p><span id="more-512"></span></p>
<p>Tiga perempat dari masyarakat urban    mengikuti pengajian atau kegiatan mesjid sebulan sekali, sementara dua    pertiga tergabung dalam organisasi-organisasi komunitas tertentu dan    organisasi kewanitaan dan asosiasi orang tua murid dan guru. </p>
<p><!--more--></p>
<p>Kegiatan kelompok yang populer adalah arisan, sebuah kegiatan yang   menguntungkan baik secara sosial maupun ekonomi dimana kelompok arisan   bertemu secara rutin untuk mengobrol dan mengumpulkan sejumlah uang dari   anggota yang akan diundi untuk mendapatkan pemenang berdasarkan  rotasi.  Tiap anggota kelompok memiliki kesempatan yang sama untuk  memenangkan  pengundian di tiap pertemuan arisan, yang juga merupakan  bentuk atau  cara menabung uang. Kadang hadiahnya tidak melulu uang,  namun peralatan  rumah tangga yangberharga, seperti  <em>oven microwave </em>atau  satu set  televisi.</p>
<p><a title="Lihat opini lainnya" href="http://www.polling-center.com/category/thoughts">Lihat opini  lainnya »</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.polling-center.com/thoughts/the-great-socializers/feed/_lang/id/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Perilaku Berbelanja dan Perilaku di Mal</title>
		<link>http://www.polling-center.com/thoughts/mall-shopping-behavior/_lang/id/</link>
		<comments>http://www.polling-center.com/thoughts/mall-shopping-behavior/_lang/id/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Jun 2010 06:43:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Thoughts]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.polling-center.com/?p=510</guid>
		<description><![CDATA[Kebiasaan Ke Mall
Cara yang lebih asik untuk menghabiskan waktu luang adalah jalan-jalan  ke mall. Masyarakat urban masa kini adalah pecinta mall. Mall bukan  hanya tempat untuk berbelanja, tapi juga sebagai ajang tempat bertemu  dengan orang-orang dari kelas yang sama, untuk berada di tengah  keramaian, tujuan jalan-jalan keluarga, tempat berbelanja dan tempat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Kebiasaan Ke Mall</strong><br />
Cara yang lebih asik untuk menghabiskan waktu luang adalah jalan-jalan  ke mall. Masyarakat urban masa kini adalah pecinta mall. Mall bukan  hanya tempat untuk berbelanja, tapi juga sebagai ajang tempat bertemu  dengan orang-orang dari kelas yang sama, untuk berada di tengah  keramaian, tujuan jalan-jalan keluarga, tempat berbelanja dan tempat  untuk makan. Untuk remaja, mall berarti nongkrong bareng bersama teman  untuk ngeceng, istilah populer untuk melihat-lihat lawan jenis.<br />
Banyak remaja mengaku bahwa lebih banyaknya kesempatan untuk dapat  bertemu dengan remaja lainnya membuat mereka lebih peduli pada  penampilannya. Tidak ketinggalan dengan tren terbaru adalah merupakan  hal yang penting. Hal ini berlaku untuk remaja pria maupun remaja  wanita.<br />
Bagi remaja keberadaan wahana game juga merupakan bagian yang penting  dari kehidupan mall. Juga keberadaan rumah makan dan kafe dimana orang  bisa bertemu dan ngobrol. Yang terpenting adalah, mall memiliki 21  Cineplex yang memutar film-film layar lebar box office teranyar. Remaja  mulai berkencan rata-rata pada usia 16 tahun dan bioskop merupakan  tempat favorit untuk berkencan.</p>
<p><strong>Kebiasaan Berbelanja</strong></p>
<p>Supermarket telah menjadi sangat populer dan dikunjungi oleh tiga  perempat dari keseluruhan jumlah rumah tangga kaum urban. Kepopuleran  supermarket disebut disebabkan karena harga yang tidak mahal,  kenyamanan, kemudahan, kerapihan dan kebersihan. Juga, dikarenakan  penjualan diskon dan pemberian bonus yang kerap ditawarkan oleh pihak  supermarket. Penggunaan ‘hypermarket’ juga bertumbuh, walaupun yang  berbelanja di sana masih mereka yang berasal dari kelas sosial  tertinggi.</p>
<p>Apakah uang memberikan kebahagiaan? Kelompok kelas dengan ekspenditur  rumah tangga tertinggi menyatakan diri mereka bahagia, sementara  kelompok dengan penghasilan lebih sedikit menyatakan diri mereka tidak  bahagia.</p>
<p>Walaupun pesona supermarket dan hypermarket terus meningkat, mereka  belum sepenuhnya bisa menggantikan pasar-pasar tradisional yang masih  menjadi  tempat pilihan kaum urban untuk berbelanja daging dan  buah-buahan serta sayuran segar. Kesempatan untuk bisa tawar menawar  juga merupakan faktor yang memotivasi orang untuk berbelanja di pasar  tradisional – para ibu rumah tangga Indonesia sangat suka menawar!  </p>
<p><a title="Lihat opini lainnya" href="http://www.polling-center.com/category/thoughts">Lihat opini  lainnya »</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.polling-center.com/thoughts/mall-shopping-behavior/feed/_lang/id/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Uang dan Kekayaan</title>
		<link>http://www.polling-center.com/thoughts/money-and-wealth/_lang/id/</link>
		<comments>http://www.polling-center.com/thoughts/money-and-wealth/_lang/id/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 07 May 2010 08:32:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Thoughts]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.polling-center.com/?p=518</guid>
		<description><![CDATA[Uang dan Kekayaan
Sebuah studi yang dilakukan di kelompok kelas dengan ekspenditur    rumah tangga tertinggi menunjukkan bahwa  mayoritas masyarakat urban    yang makmur memiliki sebuah mobil dan tinggal di rumah dengan luas lebih    dari 100 m2. Praktek perbankan juga tinggi. Namun, investasi stock  dan   share [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Uang dan Kekayaan</strong></p>
<p>Sebuah studi yang dilakukan di kelompok kelas dengan ekspenditur    rumah tangga tertinggi menunjukkan bahwa  mayoritas masyarakat urban    yang makmur memiliki sebuah mobil dan tinggal di rumah dengan luas lebih    dari 100 m2. Praktek perbankan juga tinggi. Namun, investasi stock  dan   share terbilang lebih rendah di Jakarta dibandingkan dengan  kota-kota   besar lainnya di Asia.</p>
<p><span id="more-518"></span></p>
<p> Lebih dari 50 persen orang-orang kaya tersebut memiliki uang plastik,    baik itu kartu kredit atau kartu debit. Kartu debit merupakan konsep    anyar, namun kaum urban Indonesia langsung menyukainya. Alasan  utamanya   adalah  tidak perlu berhutang dan bunga yang dikenakan oleh  kartu  kredit  untuk pembelian secara cicilan dianggap tinggi.  Orang-orang  Indonesia  tidak suka berhutang, karena konsep hutang  dihubungkan dengan   kepercayaan agama (Islam), demikian juga dengan  bunga cicilan. Hal   tersebutlah yang menjadi alasan munculnya bank-bank  berkonsep Islam.</p>
<p><a title="Lihat opini lainnya" href="http://www.polling-center.com/category/thoughts">Lihat opini  lainnya »</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.polling-center.com/thoughts/money-and-wealth/feed/_lang/id/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>The Evolution of the Social Context in Marketing</title>
		<link>http://www.polling-center.com/thoughts/the-evolution-of-the-social-context-in-marketing/_lang/id/</link>
		<comments>http://www.polling-center.com/thoughts/the-evolution-of-the-social-context-in-marketing/_lang/id/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Dec 2009 02:21:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Thoughts]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.polling-center.com/?p=464</guid>
		<description><![CDATA[



Lihat opini  lainnya »
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]><xml> <w:WordDocument> <w:View>Normal</w:View> <w:Zoom>0</w:Zoom> <w:TrackMoves /> <w:TrackFormatting /> <w:DoNotShowRevisions /> <w:DoNotPrintRevisions /> <w:DoNotShowMarkup /> <w:DoNotShowComments /> <w:DoNotShowInsertionsAndDeletions /> <w:DoNotShowPropertyChanges /> <w:PunctuationKerning /> <w:ValidateAgainstSchemas /> <w:SaveIfXMLInvalid>false</w:SaveIfXMLInvalid> <w:IgnoreMixedContent>false</w:IgnoreMixedContent> <w:AlwaysShowPlaceholderText>false</w:AlwaysShowPlaceholderText> <w:DoNotPromoteQF /> <w:LidThemeOther>EN-US</w:LidThemeOther> <w:LidThemeAsian>X-NONE</w:LidThemeAsian> <w:LidThemeComplexScript>X-NONE</w:LidThemeComplexScript> <w:Compatibility> <w:BreakWrappedTables /> <w:SnapToGridInCell /> <w:WrapTextWithPunct /> <w:UseAsianBreakRules /> <w:DontGrowAutofit /> <w:SplitPgBreakAndParaMark /> <w:DontVertAlignCellWithSp /> <w:DontBreakConstrainedForcedTables /> <w:DontVertAlignInTxbx /> <w:Word11KerningPairs /> <w:CachedColBalance /> </w:Compatibility> <m:mathPr> <m:mathFont m:val="Cambria Math" /> <m:brkBin m:val="before" /> <m:brkBinSub m:val=" " /> <m:smallFrac m:val="off" /> <m:dispDef /> <m:lMargin m:val="0" /> <m:rMargin m:val="0" /> <m:defJc m:val="centerGroup" /> <m:wrapIndent m:val="1440" /> <m:intLim m:val="subSup" /> <m:naryLim m:val="undOvr" /> </m:mathPr></w:WordDocument> </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <w:LatentStyles DefLockedState="false" DefUnhideWhenUsed="true"   DefSemiHidden="true" DefQFormat="false" DefPriority="99"   LatentStyleCount="267"> <w:LsdException Locked="false" Priority="0" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Normal" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="heading 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 7" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 8" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 9" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 7" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 8" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 9" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="35" QFormat="true" Name="caption" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="10" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Title" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="1" Name="Default Paragraph Font" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="11" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtitle" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="22" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Strong" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="20" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Emphasis" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="59" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Table Grid" /> <w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Placeholder Text" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="1" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="No Spacing" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Revision" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="34" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="List Paragraph" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="29" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Quote" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="30" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Quote" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="19" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Emphasis" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="21" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Emphasis" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="31" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Reference" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="32" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Reference" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="33" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Book Title" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="37" Name="Bibliography" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" QFormat="true" Name="TOC Heading" /> </w:LatentStyles> </xml><![endif]--></p>
<p><!--[if gte mso 10]><br />
<mce:style><!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin-top:0cm; 	mso-para-margin-right:0cm; 	mso-para-margin-bottom:10.0pt; 	mso-para-margin-left:0cm; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin;} --></p>
<p><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"></span></p>
<p class="MsoNormal"><a title="Lihat opini lainnya" href="http://www.polling-center.com/category/thoughts">Lihat opini  lainnya »</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.polling-center.com/thoughts/the-evolution-of-the-social-context-in-marketing/feed/_lang/id/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Tren Perilaku Kaum Urban</title>
		<link>http://www.polling-center.com/thoughts/trend-in-urban-behavior/_lang/id/</link>
		<comments>http://www.polling-center.com/thoughts/trend-in-urban-behavior/_lang/id/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Sep 2009 07:20:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Thoughts]]></category>

		<category><![CDATA[trend in behavior]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.polling-center.com/?p=460</guid>
		<description><![CDATA[By Yanti B. Sugarda

 Nilai Keluarga, Seks dan Peran Gender






Kaum urban sangat dan secara konsisten mendukung institusi pernikahan. Mereka berpikir dan hidup dalam wawasan kehidupan keluarga. Kehidupan membujang  adalah pengecualian, bukan norma. Kaum urban dewasa memilih kebahagiaan hidup berkeluarga daripada kekayaan materi. Kebanyakan kaum urban dewasa menikah pada usia 20 tahun ke atas. Namun, dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="margin-top: 2.88pt; margin-bottom: 0pt; margin-left: 0in; text-indent: 0in; text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed; vertical-align: baseline;">By Yanti B. Sugarda</p>
<p style="margin-top: 2.88pt; margin-bottom: 0pt; margin-left: 0in; text-indent: 0in; text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed; vertical-align: baseline;">
<p style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt; text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"><strong> Nilai Keluarga, Seks dan Peran Gender</strong></p>
<p style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt; text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;">
<p style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt; text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;">
<p style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt; text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;">
<p style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt; text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;">
<p style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt; text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;">
<p style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt; text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;">
<p style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt; text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;">Kaum urban sangat dan secara konsisten mendukung institusi pernikahan. Mereka berpikir dan hidup dalam wawasan kehidupan keluarga. Kehidupan membujang  adalah pengecualian, bukan norma. Kaum urban dewasa memilih kebahagiaan hidup berkeluarga daripada kekayaan materi. Kebanyakan kaum urban dewasa menikah pada usia 20 tahun ke atas. Namun, dan ini mungkin juga merupakan kasus universal, kaum pria tidak terlalu menganggap seks di luar nikah sebagai hal yang salah dibandingkan dengan kaum wanita. Namun secara rata-rata mayoritas orang di segala kelas sosial setuju bahwa lebih baik menunggu untuk mendapatkan kebahagiaan malam pertama.</p>
<p style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt; text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;">
<p style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt; text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;">
<p style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt; text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;">
<p style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt; text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;">
<p style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt; text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;">
<p style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt; text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;">
<p style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt; text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;">Dalam dunia kerja, 80 persen yang menempati posisi top management masihlah kaum pria. Namun, teristimewa di Jakarta, telah berhembus angin perubahan yang akan mengubah gambaran masa mendatang. Kaum wanita mulai membebaskan diri mereka dari stereotype umum dimana, melalui pandangan tradisional,  mereka hanyalah merupakan ‘teman’ dari kaum pria.</p>
<p style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt; text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;">
<p style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt; text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;">
<p style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt; text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;">
<p style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt; text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;">
<p style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt; text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;">
<p style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt; text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;">Wanita menjadi makin sadar akan peran mereka di masyarakat karena mereka kini lebih berpendidikan dan berpengetahuan luas. Mereka ingin menjadi lebih mandiri dan meningkatkan kemampuan diri mereka  guna menciptakan kehidupan mereka sendiri.</p>
<p style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt; text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;">
<p style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt; text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;">
<p style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt; text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;">
<p style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt; text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;">Hasil dari sebuah studi terhadap wanita-wanita Asia menunjukkan terdapat beberapa tipe  wanita Asia; mereka yang penuh ambisi bersifat dinamis dan mandiri, sementara mereka yang aktif memiliki sifat dinamis dan senang bergaul. Tipe wanita Asia feminin masa kini adalah mereka yang senang bergaul, penuh perhatian dan pendiam.</p>
<p style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt; text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;">
<p style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt; text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;">
<p style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt; text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;">
<p style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt; text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;">
<p style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt; text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;">
<p style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt; text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;">Tipe wanita yang tenang adalah mereka yang pendiam dan mandiri. Tampaknya kebanyakan tipe wanita Indonesia adalah senang bergaul, penuh perhatian dan pendiam – tipe wanita feminin masa kini.<br />
Dalam lingkup rumah, kebanyakan pria dan wanita dewasa cenderung sependapat bahwa pria seharusnya ikut membantu pekerjaan rumah tangga. Kaum pria sedikit demi sedikit mulai terbiasa dengan konsep kesetaraan antara pria dan wanita. Hanya 14 persen pria merasa pekerjaan rumah tangga adalah bukan bagian mereka. Istilah popular untuk segmen ini adalah ‘suami tradisional’. </p>
<p style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt; text-align: left; direction: ltr; unicode-bidi: embed;">
<p><a title="Lihat opini lainnya" href="http://www.polling-center.com/category/thoughts">Lihat opini  lainnya »</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.polling-center.com/thoughts/trend-in-urban-behavior/feed/_lang/id/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Buku Diganti Internet?</title>
		<link>http://www.polling-center.com/thoughts/books-replaced-by-internet/_lang/id/</link>
		<comments>http://www.polling-center.com/thoughts/books-replaced-by-internet/_lang/id/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 Aug 2009 08:34:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Eky handayani</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Thoughts]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.polling-center.com/?p=425</guid>
		<description><![CDATA[
Saya suka membaca buku – sangat suka membaca buku. Melalui buku saya belajar banyak hal dan melanglang ke banyak tempat di dunia. Bila anda bertanya pada saya hadiah ulang tahun apa yang selalu akan saya terima dengan tangan terbuka, saya akan mengatakan BUKU dan tak ada yang lain.
Salah satu agenda bulanan rekreasi keluarga kami adalah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[endif]--></p>
<p>Saya suka membaca buku – sangat suka membaca buku. Melalui buku saya belajar banyak hal dan melanglang ke banyak tempat di dunia. Bila anda bertanya pada saya hadiah ulang tahun apa yang selalu akan saya terima dengan tangan terbuka, saya akan mengatakan BUKU dan tak ada yang lain.</p>
<p>Salah satu agenda bulanan rekreasi keluarga kami adalah pergi ke toko buku bersama anak-anak. Dengan cara ini saya bisa mengajarkan mereka untuk mencintai buku, senang membaca seperti saya. Dan sepertinya upaya saya tersebut berhasil karena anak-anak selalu menanti-nanti rekreasi bulanan kami ke toko buku, dan akhir-akhir ini anak bungsu saya tidak mau tidur tanpa terlebih dahulu dibacakan buku cerita.</p>
<p><span id="more-425"></span><br />
Minggu lalu anak sulung saya datang pada saya dengan sebuah ide; ia ingin memiliki sebuah Taman Bacaan dimana teman-temannya bisa membaca koleksi buku yang ia miliki dengan gratis. Ia bahkan membuat beberapa flyer yang mengiklankan taman bacaannya yang akan ia edarkan ke teman-temannya.<br />
Saya sangat gembira dan mencoba membantu semampu saya untuk membuat idenya menjadi kenyataan. Kami mengumpulkan semua buku-buku yang ia milki; mencatat dan memberi nomor. Buku-buku tersebut kami taruh di beberapa kotak kardus. Saya bahkan membantunya untuk menambahkan beberapa gambar ke flyer yang dibuat anak saya agar kelihatan lebih menarik. Pagi berikutnya, naik sepeda, anak saya menyebarkan flyer yang telah ia buat ke rumah-rumah temannya di komplek perumahan kami. Dan sorenya, Taman Bacaan miliknya untuk pertama kalinya dibuka. Saya amat bangga pada anak saya, ia baru berusia delapan tahun namun telah memilki ide yang brilian seperti itu. Tujuannya amat sederhana; ia ingin berbagi buku cerita dengan teman-temannya.</p>
<p>Sungguh amat ironis dengan kenyataan yang kami dapat dari Focus Group Discussion yang diadakan oleh Polling Center Terhadap Anak Remaja awal tahun 2009; sebagian besar dari responden (remaja pria dan remaja putri berumur antara 19 – 25 tahun) mengaku bahwa mereka tidak suka membaca, bahkan untuk sekedar membaca majalah atau koran, alih-alih mereka lebih memilih main internet untuk chatting dengan teman-temannya. Akankah di masa depan buku akan punah, diganti dengan internet? Satu hal yang patut kita renungkan (eky)</p>
<p><a title="Lihat opini lainnya" href="http://www.polling-center.com/category/thoughts">Lihat opini  lainnya »</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.polling-center.com/thoughts/books-replaced-by-internet/feed/_lang/id/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Bullying Diantara Anak-anak</title>
		<link>http://www.polling-center.com/thoughts/bullying-diantara-anak-anak/_lang/id/</link>
		<comments>http://www.polling-center.com/thoughts/bullying-diantara-anak-anak/_lang/id/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 Aug 2009 02:26:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Eky handayani</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Thoughts]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.polling-center.com/?p=416&amp;_lang=id</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Awas besok kalo elo gak bawa uang yang gw minta tau sendiri akibatnya,&#8221; dengan sangat terkejut Dewi, bukan nama sebenarnya, mendapati pesan bernada ancaman seperti itu di akun email anak sulungnya, Dodi,  yang baru kelas 4 SD. Selidik punya selidik, si pengirim pesan adalah salah seorang kakak kelas Dodi yang memang terkenal bandel dan paling  [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Awas besok kalo elo gak bawa uang yang gw minta tau sendiri akibatnya,&#8221; dengan sangat terkejut Dewi, bukan nama sebenarnya, mendapati pesan bernada ancaman seperti itu di akun email anak sulungnya, Dodi,  yang baru kelas 4 SD. Selidik punya selidik, si pengirim pesan adalah salah seorang kakak kelas Dodi yang memang terkenal bandel dan paling  ditakuti oleh adik-adik kelasnya. Dan ternyata, ini bukan yang pertama kali Dodi mendapat email ancaman seperti itu dari si preman sekolah dan sudah secara teratur selama beberapa bulan belakangan ini Dodi menyetor uang jajan mingguannya ke si preman. Dodi takut mengadu pada ibunya atau gurunya karena si preman mengancam kalau sampai ia mengadu maka Dodi akan dipukuli. Beruntung Dewi secara tidak sengaja membaca pesan tersebut di akun email Dodi saat Dodi lupa mematikan PC di kamarnya. Keesokan harinya tanpa buang waktu Dewi langsung mengadukan si preman sekolah tersebut ke dewan sekolah yang ternyata telah banyak menerima pengaduan yang sama mengenai sepak terjang si preman selama ini. Akhirnya setelah beberapa kali konseling dengan guru BP dan atas desakan mayoritas orang tua murid, dewan sekolah memutuskan mengeluarkan si preman dari sekolah mereka.<span id="more-416"></span>Akhir-akhir ini bullying terhadap anak-anak melalui internet seperti yang menimpa Dodi sudah mulai menggejala. Apalagi anak-anak sekarang umumnya sudah melek internet, masing-masing memiliki akun email, dan bahkan ada yang secara aktif memilki akun di ekomunitas seperti Facebook, Twitter dll.  Informasi pribadi anak-anak tersebut terekspos secara legal melalui ekomunitas-ekomunitas semacam itu dan hal ini, disadari ataupun tidak, membuat mereka rentan terhadap bullying dari teman-temannya ataupun orang asing.<br />
Sebenarnya apa, sih, yang dimaksud dengan bullying? Menurut Kidshealth.org dari The Nemours Foundation*,  Bullying pada dasarnya adalah penyiksaan (tormenting) yang dilakukan oleh individu/ grup terhadap individu/grup lainnya secara fisik, verbal,maupun psikologis. Bisa berupa pemukulan, ejekan, ancaman, maupun pemerasan. Bahkan ada beberapa anak melakukan bullying dengan cara mengucilkan temannya atau menyebarkan gosip negatif mengenai temannya. Dampaknya bisa serius dan menimbulkan rasa rendah diri terhadap anak yang terkena bully. Dalam beberapa kasus di negara lain, bullying bisa berakhir dengan bunuh diri atau bahkan penembakan di sekolah.<br />
Berdasarkan hasil Focus Group Discussion (FGD) yang dilakukan oleh Polling Center terhadap ibu-ibu usia 35 - 40 tahun dari kelas A &amp; B awal tahun 2009, bisa disimpulkan rata-rata responden merasa khawatir anak-anak mereka terkena bully di sekolah maupun dari pergaulan di luar sekolah. Yang lebih menyeramkan lagi, seorang responden menemukan sebuah kasus bullying di sebuah institusi tempat anaknya bersekolah justru dilakukan oleh seorang guru pria di kelas 1 SD yang mengancam dan melakukan tindakan pelecehan seksual terhadap beberapa anak didik laki-laki. Salah satu Ibu dari anak-anak tersebut, yang tak lain adalah si responden, baru menyadari setelah melihat anak laki-lakinya mempunyai kebiasaan baru yaitu memainkan alat kelaminnya. Sewaktu si anak ditanya siapa yang mengajarkannya melakukan hal tersebut, si anak dengan polosnya mengakui bahwa Pak Gurunya lah yang mengajarkannya melakukan hal tersebut.<br />
Dalam FGD yang sama, para responden yang terdiri dari ibu-ibu rumah tangga dan bekerja di luar rumah ini juga menyadari dan merasa sangat khawatir karena bullying mulai dilakukan melalui pesan-pesan di internet maupun melalui short message services (SMS). Mayoritas mengatakan bahwa di rumah mereka sengaja meletakkan PC yang memiliki sambungan internet di ruang keluarga dimana anggota keluarga biasa lalu-lalang dan anak tidak bisa membuka akun mereka di internet secara sembunyi-sembunyi sehingga bila ada ancaman yang dilakukan melalui internet bisa langsung terdeteksi oleh orang tua. Sebab kebanyakan dari anak-anak justru tidak bercerita kepada orang tuanya bila mendapatkan ancaman atau di bully oleh temannya. Alasan pertama karena mereka takut orang yang melakukan bullying akan benar-benar melaksanakan ancaman mereka bila si anak mengadu pada orang tua, alasan lainnya adalah mereka merasa malu untuk mengakui mereka mendapatkan bullying karena hal itu sama saja dengan mengakui kelemahan diri mereka sendiri (alasan yang terakhir ini biasanya berasal dari anak laki-laki). Sebagian responden, terutama ibu bekerja di luar rumah, mengatakan mereka sengaja ikutan mendaftar di ekomunitas yang diikuti anaknya agar secara tidak langsung bisa mengontrol aktifitas anaknya sehari-hari. Namun, secara keseluruhan para responden mengakui bahwa jurus yang terampuh adalah komunikasi yang terbuka antara anak dan orang tua. (eky)Note: * The Nemours Foundation, a nonprofit organization created by philanthropist Alfred I. duPont in 1936 and devoted to improving the health of children.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.polling-center.com/thoughts/bullying-diantara-anak-anak/feed/_lang/id/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>HAPE, dari sosialita hingga pedagang keliling</title>
		<link>http://www.polling-center.com/thoughts/hape-dari-sosialita-hingga-pedagang-keliling/_lang/id/</link>
		<comments>http://www.polling-center.com/thoughts/hape-dari-sosialita-hingga-pedagang-keliling/_lang/id/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 Aug 2009 02:21:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Eky handayani</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Thoughts]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.polling-center.com/?p=414&amp;_lang=id</guid>
		<description><![CDATA[Di suatu Minggu pagi yang cerah saya diundang seorang sahabat lama untuk kumpul-kumpul di rumahnya. Biasalah, ngobrol-ngobrol sambil rujakan dengan teman satu gang waktu jaman kuliah dulu. Kami janjian untuk being single lagi, setidaknya untuk  hari itu, alias adalah tidak bawa anak ataupun suami. Tuan rumah pun juga mengungsikan anak dan suaminya ke rumah mertuanya. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di suatu Minggu pagi yang cerah saya diundang seorang sahabat lama untuk kumpul-kumpul di rumahnya. Biasalah, ngobrol-ngobrol sambil rujakan dengan teman satu gang waktu jaman kuliah dulu. Kami janjian untuk being single lagi, setidaknya untuk  hari itu, alias adalah tidak bawa anak ataupun suami. Tuan rumah pun juga mengungsikan anak dan suaminya ke rumah mertuanya. Hehehe… biar enak dan seru ngobrolnya.</p>
<p>Namanya juga Ibu-ibu, ada aja yang digosipin. Dari mulai fashion terbaru, tumbuh kembang anak-anak sampai ke urusan gadget. Salah satu teman saya yang memang sosialita sekali, akhirnya dengan malu-malu memamerkan blackberry-nya. Katanya dia juga sudah ikutan klub gaul ponsel ajaib itu. Iseng-iseng saya tanya fitur-fiturnya. Sok tahu aja, kebetulan saya baru baca tentang barang ajaib satu itu dari sebuah majalah. Eh dia malah mengaku masih kurang ngeh cara menggunakan blackberry-nya. Terutama cara menggunakan fitur push e-mailnya. Oalah… ternyata benar ya kebanyakan wanita suka gaptek kalau urusan gadget, senang beli hape baru yang super canggih tapi ternyata hanya untuk gaya-gayaan aja.</p>
<p><span id="more-414"></span> Belum habis ngomongin hape, si tuan rumah tiba-tiba menawarkan siomay bandung. Katanya dia punya tukang siomay keliling di komplek perumahannya yang siomaynya enak banget, joss rasa ikan tenggirinya, nggak kalah deh sama siomay di resto terkenal . Dasar tukang makan semua, kamipun serentak buka suara… mau dooong. Tapi mana tukang siomaynya? Tenang, kata teman saya, si tukang siomay punya hape, kalau kita mau pesan, tinggal telpon ke hapenya saja, nanti dia datang. Wah, canggih banget… hape memang sudah betul-betul merakyat sekarang, bahkan tukang siomay kelilingpun punya hape.</p>
<p>Ada lagi nih, teman saya yang lain menambahkan, dia cerita waktu kemarin dia sedang belanja bulanan di sebuah hypermarket, tiba-tiba pembantunya kirim sms mengingatkan untuk tidak lupa membeli beras karena persediaan beras di rumah habis. Belum habis rasa terkejutnya, si pembantunya sms lagi untuk titip minta dibelikan shampoo. Walah!</p>
<p>Oya, berdasarkan hasil riset Polling Center pertengahan tahun lalu, penggunaan hape memang sudah merambah hingga ke rural lo, nggak tanggung-tanggung 42,6% masyarakat rural sudah memiliki hape. Peningkatannya cukup tajam dibandingkan tahun 2006 dimana angka pengguna hape di rural masih 35,45%. Dengan kata lain, hape bukan lagi barang tak terjangkau bagi penduduk di rural, apalagi saat ini banyak provider yang menawarkan pulsa dan hape murah. Jadi jangan kaget kalau suatu ketika anda mendapat sms dari tukang sayur atau tukang jamu keliling menawarkan dagangannya pada anda. Canggih nggak! (Eky)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.polling-center.com/thoughts/hape-dari-sosialita-hingga-pedagang-keliling/feed/_lang/id/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Bukan Lagi Siti Noerbaja</title>
		<link>http://www.polling-center.com/thoughts/bukan-lagi-siti-noerbaja/_lang/id/</link>
		<comments>http://www.polling-center.com/thoughts/bukan-lagi-siti-noerbaja/_lang/id/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 Aug 2009 02:10:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Eky handayani</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Thoughts]]></category>

		<category><![CDATA[gender equility]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.polling-center.com/?p=403&amp;_lang=id</guid>
		<description><![CDATA[Potret perempuan pada  karya-karya sastra klasik sangatlah memprihatinkan, tengok saja tokoh Mariamin pada Novel Azab dan Sengsara karya Merari Siregar yang karena adat istiadat dan keterbatasan-keterbatasan yang membelenggu perempuan pada masa itu (1920) membuat Mariamin gagal menemukan kebahagiaan untuk menikah dengan pujaan hatinya, Aminuddin, dan akhirnya meninggal dalam keadaan berpenyakitan serta sengsara.
Ada juga tokoh Siti [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Potret perempuan pada  karya-karya sastra klasik sangatlah memprihatinkan, tengok saja tokoh Mariamin pada Novel Azab dan Sengsara karya Merari Siregar yang karena adat istiadat dan keterbatasan-keterbatasan yang membelenggu perempuan pada masa itu (1920) membuat Mariamin gagal menemukan kebahagiaan untuk menikah dengan pujaan hatinya, Aminuddin, dan akhirnya meninggal dalam keadaan berpenyakitan serta sengsara.<br />
Ada juga tokoh Siti Nurbaya dalam Novel Siti Noerbaja karya Marah Roesli yang atas nama paternalisme dipaksa menikah dengan seorang tuan tanah kaya namun tua (Datoek Maringgih)  dan harus meninggalkan kekasih hatinya (Syamsul Bahri). Kedua contoh tokoh perempuan tersebut (Mariamin dan Siti Noerbaja) adalah cerminan dari kondisi yang menimpa perempuan pada kurun waktu sekitar 1920 - 1930 an. Sangat memprihatinkan. Namun bagaimana dengan perempuan masa kini? Apakah nasib mereka masih terbelenggu dengan segala keterbatasan dan kukungan adat istiadat seperti Mariamin dan Siti Noerbaja?<br />
<span id="more-403"></span>Dari hasil riset sosial yang diadakan oleh Polling Center di awal 2009, dapat disimpulkan bahwa perempuan pada masa kini sangatlah berbeda nasibnya dengan perempuan pada masa Siti Noerbaja. Sebagai kaum perempuan kita boleh berbangga karena dari segi politik, kandidat perempuan dianggap lebih bisa mengerti keinginan rakyat dan memiliki personaliti yang lebih baik. Malahan sebagian responden laki-laki dan perempuan (49%) juga beranggapan bahwa komposisi jumlah wanita dalam parlemen saat ini masih terlalu sedikit. Mayoritas juga berpendapat dengan adanya perempuan dalam kepemerintahan maka kekerasan (61.9%) dan korupsi (51.7%) akan berkurang serta pemerintahan akan menjadi lebih baik (59,5%).<br />
Sementara dari segi pendidikan, terutama demografi pendidikan, diketahui bahwa tingkat prosentase laki-laki dan perempuan dalam pendidikan ternyata hanya beda-beda tipis. Untuk jenjang S1, prosentase laki-laki sebesar 50.91% sedangkan perempuan 49.09%. Dari segi kesempatan menempuh jenjang pendidikan, mayoritas responden laki-laki (82.9%) dan perempuan (81.9%) tidak menyetujui pendapat bahwa &#8220;perempuan tidak perlu sekolah tinggi karena toh nantinya akan mengurus rumah tangga juga&#8221;. Apalagi sekitar 60% ke atas dari jumlah responden laki-laki dan perempuan juga tidak setuju bila perempuan seharusnya hanya menjadi ibu rumah tangga saja. Sedangkan seorang ibu rumah tangga diharapkan menjadi pengambil keputusan yang utama dilihat dari persepsi fungsi dalam rumah tangga.<br />
Hanya ada satu rapor merah yang disimpulkan dari hasil riset ini, yaitu mengenai kesempatan memperoleh pekerjaan, karena 67,99% responden laki-laki dan 62,47% responden perempuan masih setuju bahwa laki-laki harus didahulukan dalam memperoleh pekerjaan dibanding wanita. Mungkin hal ini dikarenakan sistim patriaki di masyarakat Indonesia yang masih kuat dimana laki-laki diharapkan menjadi tulang punggung keluarga dan pemberi nafkah utama dalam keluarga sehingga harus lebih diutamakan dalam memperoleh kesempatan bekerja. Padahal dewasa ini peran perempuan dan laki-laki dalam keluarga sudah banyak mengalami pergeseran, banyak perempuan yang kini menjadi pencari nafkah utama dalam keluarga dan bekerja sehari penuh di luar rumah sementara sang bapak lebih banyak di rumah dan mengurus rumah tangga.<br />
Nah, dilihat dari hasil keseluruhan riset yang sengaja dijalankan untuk mengetahui peran perempuan dewasa ini tersebut dapat disimpulkan bahwa tingkat kesetaraan gender dari berbagai aspek sosial di masyarakat sudah cukup menggembirakan. Peran perempuan sudah mulai diakui di segala bidang, bahkan dari bidang politik sekalipun. Dan kita bisa berlega hati mengatakan bahwa perempuan bukan lagi Siti Noerbaja&#8230; (eky)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.polling-center.com/thoughts/bukan-lagi-siti-noerbaja/feed/_lang/id/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Bangkitnya Generasi Gadget; Keakraban Sosial</title>
		<link>http://www.polling-center.com/thoughts/the-dawn-of-the-gadget-generation-social-bonding-of-urban-youth/_lang/id/</link>
		<comments>http://www.polling-center.com/thoughts/the-dawn-of-the-gadget-generation-social-bonding-of-urban-youth/_lang/id/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Mar 2009 11:43:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Thoughts]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.polling-center.com/?p=335</guid>
		<description><![CDATA[Ada pepatah dalam bahasa Jawa: &#8220;Mangan Ora Mangan Asal Ngumpul&#8220;. Yang artinya, makan atau tidak, yang penting adalah berkumpul. Ungkapan itu mewakili mind-set masyarakat  Indonesia. Hal itu pun berlaku bagi banyak di antara generasi muda. Sosialisasi adalah esensi dari kehidupan.
Pertemuan pribadi, komunikasi yang saling bertemu muka, face-to-face, dan bergaul adalah  kegiatan yang paling [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ada pepatah dalam bahasa Jawa: &#8220;<em>Mangan Ora Mangan Asal Ngumpul</em>&#8220;. Yang artinya, makan atau tidak, yang penting adalah berkumpul. Ungkapan itu mewakili <em>mind-set</em> masyarakat  Indonesia. Hal itu pun berlaku bagi banyak di antara generasi muda. Sosialisasi adalah esensi dari kehidupan.</p>
<p>Pertemuan pribadi, komunikasi yang saling bertemu muka, <em>face-to-face</em>, dan bergaul adalah  kegiatan yang paling menyenangkan untuk mengisi waktu. Sebuah peristiwa dijadikan alasan untuk bertemu, berkumpul dan bergaul. Hari pertama sekolah, hari terakhir sekolah, pertemuan setelah sepulang sekolah, arisan, perayaan ulang tahun, apa pun, bisa dijadikan alasan untuk bertemu.</p>
<p><span id="more-335"></span></p>
<p>Masih terbayang di kepala, ingatan mengenai zaman dulu, di mana para ibu adalah tokoh utama tempat seluruh anggota keluarga bergantung.  Di mana meja makan adalah tempat berkumpulnya seluruh anggota keluarga. Saat itu sama sekali tak ada peralatan canggih. Kecuali telepon sesekali digunakan untuk mengatur pertemuan dan membuat janji.</p>
<p>Riset menunjukkan bahwa di tahun ‘80-an, para ibu, wanita, mulai tertarik untuk keluar dari rumah untuk ikut berpartisipasi dengan banyak kegiatan di luar rumah. Jumlah  wanita pekerja terus meningkat. Hingar-bingar kehidupan di perkotaan membuat kita jauh dari rumah. Kemudian banyak <em>mall </em>dibangun, juga kafe-kafe restoran dan tempat-tempat makan lain, pusat hiburan, tempat untuk bersosialisasi dan bergaul.</p>
<p>Stasiun televisi swasta menjadi tren baru, yang membawa perubahan setelah sekian lama dikuasai satu-satunya stasiun televisi milik pemerintah. Televisi adalah  instrumen pertama untuk mengubah tayangan di rumah. Pusat kegiatan keluarga tak lagi ada di meja makan lagi. Ruang keluarga, di mana televisi ditempatkan, menjadi tempat berkumpul seluruh anggota keluarga.</p>
<p>Di akhir era ’80-an, televisi menjadi magnet baru dalam  setiap rumah tangga di Indonesia.  Akan tetapi, hal ini tak membuat anak muda betah di rumah. Ada semacam pertemuan di jalan. &#8221; JJS&#8221;  atau Jalan-jalan Sore yang  berarti berjalan-jalan pada sore hari. Lokasi tempat pertemuan biasanya di dekat pusat perbelanjaan. Daerah Blok M, Kebayoran dan Menteng adalah beberapa tempat yang terkenal.</p>
<p>Kemudian ada era radio yang mudah dibawa dan walkman. Musik dan radio memegang peranan penting di kalangan anak muda.  Musik adalah gaya hidup, tempat untuk menyalurkan pengalaman emosional sekaligus tempat mengekspresikan emosi. Radio tersegmentasi menjadi beberapa bagian; radio untuk remaja, radio untuk wanita, radio untuk karyawan, bahkan ada radio Dang-dut, radio Jazz,  dan radio humor.</p>
<p>Kemudian di awal tahun ’90-an, kita memasuki komputer pribadi. Komputer digunakan di rumah dan tak hanya sebagai alat untuk bekerja. Harga komputer menjadi cukup terjangkau.     Kemudian, bukan hanya PC tetapi juga keajaiban internet, jalan raya menuju dunia maya melanda kehidupan manusia. Masa kini telah menandai datangnya milenium baru. Mari kita melihat keseharian hidup seorang pemuda kota biasa. Beberapa temuan dari beberapa grup diskusi yang berfokus dikalangan anak muda. Gadget/ Peralatan telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan mereka, terutamanya telepon selular, atau lebih dikenal sebagai, Handphone,  atau HP (&#8221; Ha-Pe&#8221;), dan Laptop atau PC.</p>
<p>Gadget atau peralatan ini adalah &#8220;Keberadan&#8221; mereka. Untuk memahami lebih jauh lagi mengenai konsep &#8221; Keberadaan&#8221; anak muda yang  berusia antara 19 – 23 tahun ini  Sepertinya arti&#8221; Keberadaan&#8221;  adalah untuk diakui, diterima, dikenal dan terhubung dengan teman. Oleh karena itu, di dalam benak mereka, Gadget ini adalah cara untuk memiliki keberadaan mereka. Keberadaan itu dinilai dari jumlah teman. Semakin dia bergaul, maka keberadaanya akan semakin eksis. Komentar yang banyak dilontarkan anak muda: &#8220;Kita dilihat dari banyaknya teman-teman yang kita miliki.&#8221;</p>
<p>Sikap ini sepertinya adalah penyebab bertambah tajamnya peningkatan penjualan produk telekomunikasi.  Ponsel digunakan untuk Voice-Call, SMS, musik dan untuk mengambil dan mengirimkan foto. Anak muda rata-rata dapat mengirim SMS berkali-kali sepanjang hari, bahkan saat ada di kelas. Pesan-pesan yang dikiirim biasanya berkenaan dengan hal-hal sehari-hari, misalnya menanyakan kesibukan temannya atau menanyakan gosip atau berita terbaru.</p>
<p>Mereka bahkan mengakui kebanyakan dari isi SMS itu tidak penting,  tetapi yang lebih penting adalah mengirimkannya. Panggilan telepon melalui ponsel lebih sedikit dilakukan dibandingkan dengan mengirimkan dan menerima SMS. Jelas terlihat bahwa keterbatasan dana bagi anak muda  telah membuat kartu pra-bayar lebih diminati. Layanan kartu pra-bayar ini bersifat dibayar di muka dengan harga yang sudah pasti. Secara otomatis memberikan kendali atas jumlah pemakaian dan juga dana yang dihabiskan. Rata-rata mereka menghabiskan Rp.30.000 sampai Rp. 150.000.- per bulan untuk komunikasi ponsel.</p>
<p>Sementara batasan harga Ponsel yang digunakan berkisar antara Rp.1.5 juta sampai Rp.2.5 juta. Tentu saja orangtua mereka membantu pembelian ponsel, baik dalam bentuk uang saku yang sebelumnya mereka tabung, atau dengan membelikannya secara langsung untuk mereka.</p>
<p>Panggilan telepon biasanya banyak dilakukan pada malam hari, melalui ponsel mereka atau lebih sering, melalui telepon rumah. Menelepon dengan telepon rumah akan dibayarkan orangtuanya. Pada malam hari, banyak waktu dihabiskan untuk bicara dengan teman-teman, yang sering kali menjengkelkan orangtua Biasanya mereka memakai telepon hingga berjam-jam. Menurut mereka larut malam, di atas pukul 10 malam, adalah waktu terbaik untuk menelepon.</p>
<p>Laptop dan PC juga telah merubah pola sosial anak muda. Prioritas utama pemakaian komputer, selain untuk tugas sekolah, adalah untuk internet.</p>
<p>Internet digunakan untuk mengirim email, chatting, dan Game online, untuk mendownload musik dan browsing. Situs paling terkenal untuk mendapat teman-teman baru atau menemukan teman-teman lama, seperti Friendster atau Facebook.</p>
<p>Mereka yang tak mempunyai laptop atau PC di rumahnya tak selalu bisa digunakan, mereka pergi ke kios internet atau &#8216;warnet. Tapi, waktu yang dihabiskan di warnet terbatas, karena mereka harus merogoh uang saku lebih banyak  untuk membayar waktu penggunaan internet di warnet.</p>
<p>Waktu yang dihabiskan untuk internet biasanya panjang juga, terutama jika sudah berkomunikasi dengan teman-teman. mereka akan menghabiskan waktu 2-3 jam di internet per hari. Malam hari juga dianggap waktu terbaik untuk membuka internet.</p>
<p>Lamanya waktu yang dihabiskan menggunakan gadget berakibat berkurangnya waktu yang dihabiskan bersama keluarga dan berkurangnya waktu yang dihabiskan di media lain, seperti menonton televisi, film dan juga berita yang semuanya dapat juga diakses melalui internet.</p>
<p>Yanti B. Sugarda</p>
<p>Telah dipublikasikan di Garuda Magazine - Edisi Maret 2009 </p>
<p><a title="Lihat opini lainnya" href="http://www.polling-center.com/category/thoughts">Lihat opini  lainnya »</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.polling-center.com/thoughts/the-dawn-of-the-gadget-generation-social-bonding-of-urban-youth/feed/_lang/id/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
