Belajar dari rumah tidak menjadikan guru menjadi lebih berleha-leha

Polling Center telah melakukan survei tentang pengalaman kegiatan belajar mengajar di rumah selama masa pandemi Covid-19. Survei dilakukan dengan metode wawancara mendalam (In-Depth Interview) secara online terhadap 16 orang di kalangan Sekolah Dasar daerah Jabodetabek, yaitu 5 orang tua, 6 guru walikelas, dan 5 siswa. Untuk mendapatkan keberagaman, responden diambil dari tipe sekolah yang beragam (negeri dan swasta; sekolah umum dan berbasis agama), level kelas yang berbeda (kelas 1-6), orang tua bekerja dan tidak bekerja, orang tua yang memiliki satu anak bersekolah dan orang tua yang memiliki lebih dari satu anak yang bersekolah.

Kita lihat bagaimana cerita para guru selama proses belajar mengajar dilakukan dari rumah:

Bagi Wali kelas/Guru mengajar dari rumah tidak menjadikan guru (khususnya wali kelas) menjadi lebih berleha-leha. Mereka memiliki kesibukan yang sama dengan level tantangan yang berbeda. Mereka tetap melakukan tugasnya terkait pembelajaran (mengajar langsung secara online, membuat dan mendistribusikan tutorial belajar, membuat soal dan memeriksa hasil tugas). Para walikelas juga harus melakukan koordinasi secara intensif dengan guru pengajar lainnya, orang tua siswa, dan/atau orang tua yang menjadi koordinator kelas, dan/atau siswa, terkait dengan distribusi, mengingatkan dan pengumpulan tugas sekolah di rumah. Walaupun jika berdasarkan cerita dari orang tua dan siswa, tidak semua walikelas/guru berupaya untuk memiliki kualitas koordinasi dan komunikasi yang bagus. Khusus Guru SD Negeri, mereka juga memiliki kewajiban untuk mengirimkan laporan harian kepada Dinas Pendidikan. Hal baru yang harus dilakukan adalah selalu berinovasi dengan metode dan tools pembelajaran yang efisien (secara waktu dan biaya, baik bagi guru maupun siswa) dan fun (tanpa pendampingan dari guru, aspek ini penting untuk mendorong semangat siswa). Ada guru yang bisa melakukannya dengan baik, misalnya dengan menggunakan beberapa aplikasi seperti Google Form, Google Class Room, Quisis, Edmundo, dll). Namun ada juga yang lebih memilih cara konvensional. Pelibatan aplikasi dan tekhnologi ini benar-benar bergantung kepada inisiatif, kreatifitas dan kepedulian dari individu guru (bukan sekolah). Menyadari bahwa masa ini akan menjadi masa sulit bagi siswa, beberapa guru juga melakukan hal-hal untuk memotivasi semangat siswa, misalnya dengan memberikan reward/gimmick kepada siswa dengan pencapaian baik, membagi kata-kata yang memotivasi, atau melakukan hal seru bersama-sama secara online. Dalam melakukan semua hal diatas, tentu guru/wali kelas tentu memiliki tantangan, baik yang bersumber dari guru sendiri ataupun dari orang tua/siswa, yaitu memiliki device dan koneksi internet yang tidak mendukung kegiatan online nya dengan baik (khususnya dengan banyaknya tugas berupa foto atau video dari siswa), harus berbagi device dengan anaknya yang juga bersekolah, memiliki kemampuan adaptasi tekhnologi yang kurang baik (gaptek), tidak semua orang tua / siwa bisa mengikuti kegiatan online karena keterbatasan device dan koneksi internet, dan komunikasi yang tidak selalu mulus dengan orang tua dan/atau siswa (khususnya yang masih sibuk / bekerja).