Bukan Lagi Siti Noerbaja
Potret perempuan pada karya-karya sastra klasik sangatlah memprihatinkan, tengok saja tokoh Mariamin pada Novel Azab dan Sengsara karya Merari Siregar yang karena adat istiadat dan keterbatasan-keterbatasan yang membelenggu perempuan pada masa itu (1920) membuat Mariamin gagal menemukan kebahagiaan untuk menikah dengan pujaan hatinya, Aminuddin, dan akhirnya meninggal dalam keadaan berpenyakitan serta sengsara.
Ada juga tokoh Siti Nurbaya dalam Novel Siti Noerbaja karya Marah Roesli yang atas nama paternalisme dipaksa menikah dengan seorang tuan tanah kaya namun tua (Datoek Maringgih) dan harus meninggalkan kekasih hatinya (Syamsul Bahri). Kedua contoh tokoh perempuan tersebut (Mariamin dan Siti Noerbaja) adalah cerminan dari kondisi yang menimpa perempuan pada kurun waktu sekitar 1920 - 1930 an. Sangat memprihatinkan. Namun bagaimana dengan perempuan masa kini? Apakah nasib mereka masih terbelenggu dengan segala keterbatasan dan kukungan adat istiadat seperti Mariamin dan Siti Noerbaja?
Dari hasil riset sosial yang diadakan oleh Polling Center di awal 2009, dapat disimpulkan bahwa perempuan pada masa kini sangatlah berbeda nasibnya dengan perempuan pada masa Siti Noerbaja. Sebagai kaum perempuan kita boleh berbangga karena dari segi politik, kandidat perempuan dianggap lebih bisa mengerti keinginan rakyat dan memiliki personaliti yang lebih baik. Malahan sebagian responden laki-laki dan perempuan (49%) juga beranggapan bahwa komposisi jumlah wanita dalam parlemen saat ini masih terlalu sedikit. Mayoritas juga berpendapat dengan adanya perempuan dalam kepemerintahan maka kekerasan (61.9%) dan korupsi (51.7%) akan berkurang serta pemerintahan akan menjadi lebih baik (59,5%).
Sementara dari segi pendidikan, terutama demografi pendidikan, diketahui bahwa tingkat prosentase laki-laki dan perempuan dalam pendidikan ternyata hanya beda-beda tipis. Untuk jenjang S1, prosentase laki-laki sebesar 50.91% sedangkan perempuan 49.09%. Dari segi kesempatan menempuh jenjang pendidikan, mayoritas responden laki-laki (82.9%) dan perempuan (81.9%) tidak menyetujui pendapat bahwa “perempuan tidak perlu sekolah tinggi karena toh nantinya akan mengurus rumah tangga juga”. Apalagi sekitar 60% ke atas dari jumlah responden laki-laki dan perempuan juga tidak setuju bila perempuan seharusnya hanya menjadi ibu rumah tangga saja. Sedangkan seorang ibu rumah tangga diharapkan menjadi pengambil keputusan yang utama dilihat dari persepsi fungsi dalam rumah tangga.
Hanya ada satu rapor merah yang disimpulkan dari hasil riset ini, yaitu mengenai kesempatan memperoleh pekerjaan, karena 67,99% responden laki-laki dan 62,47% responden perempuan masih setuju bahwa laki-laki harus didahulukan dalam memperoleh pekerjaan dibanding wanita. Mungkin hal ini dikarenakan sistim patriaki di masyarakat Indonesia yang masih kuat dimana laki-laki diharapkan menjadi tulang punggung keluarga dan pemberi nafkah utama dalam keluarga sehingga harus lebih diutamakan dalam memperoleh kesempatan bekerja. Padahal dewasa ini peran perempuan dan laki-laki dalam keluarga sudah banyak mengalami pergeseran, banyak perempuan yang kini menjadi pencari nafkah utama dalam keluarga dan bekerja sehari penuh di luar rumah sementara sang bapak lebih banyak di rumah dan mengurus rumah tangga.
Nah, dilihat dari hasil keseluruhan riset yang sengaja dijalankan untuk mengetahui peran perempuan dewasa ini tersebut dapat disimpulkan bahwa tingkat kesetaraan gender dari berbagai aspek sosial di masyarakat sudah cukup menggembirakan. Peran perempuan sudah mulai diakui di segala bidang, bahkan dari bidang politik sekalipun. Dan kita bisa berlega hati mengatakan bahwa perempuan bukan lagi Siti Noerbaja… (eky)



