Bullying Diantara Anak-anak
“Awas besok kalo elo gak bawa uang yang gw minta tau sendiri akibatnya,” dengan sangat terkejut Dewi, bukan nama sebenarnya, mendapati pesan bernada ancaman seperti itu di akun email anak sulungnya, Dodi, yang baru kelas 4 SD. Selidik punya selidik, si pengirim pesan adalah salah seorang kakak kelas Dodi yang memang terkenal bandel dan paling ditakuti oleh adik-adik kelasnya. Dan ternyata, ini bukan yang pertama kali Dodi mendapat email ancaman seperti itu dari si preman sekolah dan sudah secara teratur selama beberapa bulan belakangan ini Dodi menyetor uang jajan mingguannya ke si preman. Dodi takut mengadu pada ibunya atau gurunya karena si preman mengancam kalau sampai ia mengadu maka Dodi akan dipukuli. Beruntung Dewi secara tidak sengaja membaca pesan tersebut di akun email Dodi saat Dodi lupa mematikan PC di kamarnya. Keesokan harinya tanpa buang waktu Dewi langsung mengadukan si preman sekolah tersebut ke dewan sekolah yang ternyata telah banyak menerima pengaduan yang sama mengenai sepak terjang si preman selama ini. Akhirnya setelah beberapa kali konseling dengan guru BP dan atas desakan mayoritas orang tua murid, dewan sekolah memutuskan mengeluarkan si preman dari sekolah mereka.Akhir-akhir ini bullying terhadap anak-anak melalui internet seperti yang menimpa Dodi sudah mulai menggejala. Apalagi anak-anak sekarang umumnya sudah melek internet, masing-masing memiliki akun email, dan bahkan ada yang secara aktif memilki akun di ekomunitas seperti Facebook, Twitter dll. Informasi pribadi anak-anak tersebut terekspos secara legal melalui ekomunitas-ekomunitas semacam itu dan hal ini, disadari ataupun tidak, membuat mereka rentan terhadap bullying dari teman-temannya ataupun orang asing.
Sebenarnya apa, sih, yang dimaksud dengan bullying? Menurut Kidshealth.org dari The Nemours Foundation*, Bullying pada dasarnya adalah penyiksaan (tormenting) yang dilakukan oleh individu/ grup terhadap individu/grup lainnya secara fisik, verbal,maupun psikologis. Bisa berupa pemukulan, ejekan, ancaman, maupun pemerasan. Bahkan ada beberapa anak melakukan bullying dengan cara mengucilkan temannya atau menyebarkan gosip negatif mengenai temannya. Dampaknya bisa serius dan menimbulkan rasa rendah diri terhadap anak yang terkena bully. Dalam beberapa kasus di negara lain, bullying bisa berakhir dengan bunuh diri atau bahkan penembakan di sekolah.
Berdasarkan hasil Focus Group Discussion (FGD) yang dilakukan oleh Polling Center terhadap ibu-ibu usia 35 - 40 tahun dari kelas A & B awal tahun 2009, bisa disimpulkan rata-rata responden merasa khawatir anak-anak mereka terkena bully di sekolah maupun dari pergaulan di luar sekolah. Yang lebih menyeramkan lagi, seorang responden menemukan sebuah kasus bullying di sebuah institusi tempat anaknya bersekolah justru dilakukan oleh seorang guru pria di kelas 1 SD yang mengancam dan melakukan tindakan pelecehan seksual terhadap beberapa anak didik laki-laki. Salah satu Ibu dari anak-anak tersebut, yang tak lain adalah si responden, baru menyadari setelah melihat anak laki-lakinya mempunyai kebiasaan baru yaitu memainkan alat kelaminnya. Sewaktu si anak ditanya siapa yang mengajarkannya melakukan hal tersebut, si anak dengan polosnya mengakui bahwa Pak Gurunya lah yang mengajarkannya melakukan hal tersebut.
Dalam FGD yang sama, para responden yang terdiri dari ibu-ibu rumah tangga dan bekerja di luar rumah ini juga menyadari dan merasa sangat khawatir karena bullying mulai dilakukan melalui pesan-pesan di internet maupun melalui short message services (SMS). Mayoritas mengatakan bahwa di rumah mereka sengaja meletakkan PC yang memiliki sambungan internet di ruang keluarga dimana anggota keluarga biasa lalu-lalang dan anak tidak bisa membuka akun mereka di internet secara sembunyi-sembunyi sehingga bila ada ancaman yang dilakukan melalui internet bisa langsung terdeteksi oleh orang tua. Sebab kebanyakan dari anak-anak justru tidak bercerita kepada orang tuanya bila mendapatkan ancaman atau di bully oleh temannya. Alasan pertama karena mereka takut orang yang melakukan bullying akan benar-benar melaksanakan ancaman mereka bila si anak mengadu pada orang tua, alasan lainnya adalah mereka merasa malu untuk mengakui mereka mendapatkan bullying karena hal itu sama saja dengan mengakui kelemahan diri mereka sendiri (alasan yang terakhir ini biasanya berasal dari anak laki-laki). Sebagian responden, terutama ibu bekerja di luar rumah, mengatakan mereka sengaja ikutan mendaftar di ekomunitas yang diikuti anaknya agar secara tidak langsung bisa mengontrol aktifitas anaknya sehari-hari. Namun, secara keseluruhan para responden mengakui bahwa jurus yang terampuh adalah komunikasi yang terbuka antara anak dan orang tua. (eky)Note: * The Nemours Foundation, a nonprofit organization created by philanthropist Alfred I. duPont in 1936 and devoted to improving the health of children.



