Demam Batik
Akhir-akhir ini banyak orang yang sedang demam batik. Seperti tadi pagi saat saya berangkat kerja, di jalan saya lihat rata-rata orang, terutama kaum wanita, mengenakan batik. Lucu-lucu dan fashionable modelnya. Batik yang semula berkesan kuno disulap dengan kreatif menjadi blouse trendy. Warnanya pun tidak monoton coklat seperti pada umumnya batik yang ada selama ini. Ada yang hijau tosca, biru lembayung, dan pastel. Kesannya jadi segar deh.
Ternyata dengan penanganan yang kreatif, batik bisa menjadi alternatif baju yang sangat fleksibel. Bila anda ingin santai, pilih saja model yang berlengan pendek, padukan dengan celana jeans dan sepatu sandal. Bila ingin serius, pilih model berlengan panjang, padukan dengan celana panjang atau rok dari bahan yang agak glossy dan sepatu formal berhak tinggi. Praktis kan?
Dengan adanya tren ini, banyak produsen batik yang semula hampir bangkrut kini bangkit kembali. Thanks to para desainer kita yang berhasil mengangkat citra batik dan menghidupkannya kembali. Sayang kan kalau batik yang notabene merupakan warisan budaya Indonesia meredup di negeri sendiri hanya karena fashion trend di masyarakatnya lebih berkiblat ke barat daripada ke akar budayanya sendiri. Apalagi menurut data dari Polling Center - sebuah perusahaan riset sosial dan marketing terkemuka - masyarakat Indonesia pada umumnya, terutama urban, sangat trend conscious. 40% dari wanitanya adalah fashion oriented. Nah sekarang tinggal merubah arah kiblat fesyen kita, yang semula ke luar, menjadi ke dalam. Pasti deh industri batik Indonesia bakalan menggeliat kembali.
40% Wanita Urban Fashion Oriented - Data Life Study, Polling Center
Ngomong-ngomong hari ini saya juga pakai atasan batik, hehehe… rupanya saya juga termasuk dari 40% wanita yang fashion oriented ya. (eky)



