Koran Pagi
Seperti biasa di akhir minggu pagi, tamu yang paling kami tunggu adalah koran pagi. Hampa rasanya bila sarapan tanpa ditemani teman yang satu ini. Masalahnya, Sabtu - Minggu adalah satu-satunya kesempatan saya dan suami bisa memiliki waktu luang membaca koran di pagi hari karena pada hari-hari lain biasanya kami sudah repot duluan bersiap-siap pergi ke kantor. Boro-boro baca koran, sarapan saja kadang dilakukan di perjalanan menuju kantor. Tapi kok tunggu punya tunggu, si koran tidak datang juga, padahal jam sudah beranjak ke angka 9, biasanya sebelum pukul 6 pagi, sebuah koran sudah melayang melalui pagar rumah kami dan mendarat dengan manis di carport.
Usut punya usut ternyata sang loper yang biasa mengantar Koran ke daerah kami tidak masuk. Sang agen meminta maaf dan berjanji akan mengirimkan koran yang kesiangan segera dengan loper lain. Hehehe, suami saya sudah tidak sabar, tanpa menunggu kiriman dari sang agen, beliau buru-buru ‘hunting’ ke luar. Ia tidak mau ketinggalan berita mengenai hasil pertandingan Piala Eropa semalam. Nasi goreng panas yang saya sajikan di meja makan pun ia tega tinggalkan. Kira-kira lima menit kemudian dia kembali dengan penuh kemenangan. Sebuah koran pagi ia acung-acungkan pada saya. Suami saya langsung memilah halaman-halaman koran tersebut dan memberikan sebagian kepada saya. Sudah merupakan kesepakatan bersama, bagian saya adalah halaman yang memuat rubrik lifestyle dan infotainment, sedangkan bagian suami adalah politik dan olahraga. Saya jadi teringat menurut data Polling Center, sebuah lembaga riset terkemuka, sebagian besar pria dewasa (71.43%) menyukai artikel politik dan olahraga, sedangkan wanita (78.43%) lebih memilih artikel infotainment dan lifestyle. Wah…wah…, apa ini ada hubungannya dengan filosofi Men are from Mars and Women are from Venus itu ya? Tapi benar lo, di tengah kesetaraan gender yang sering didengung-dengungkan para aktivis perempuan, pria dan wanita memang berbeda. Masing-masing ada kelebihan dan kelemahannya. Nah, sekarang pintar-pintarnya kita saja untuk saling menyesuaikan diri. Ya nggak?
Tapi balik lagi bicara koran, bukannya berarti saya (dan pada umumnya kaum wanita) hanya tertarik membaca lifestyle, lo. Soalnya setelah saya selesai membaca ‘bagian’ saya, saya pasti menagih pada suami saya bagian lainnya. Diam-diam, saya juga suka mengikuti perkembangan politik dan teknologi. Demikian juga suami saya, ia pun juga suka membaca mengenai infotainment, katanya sih supaya bisa menanggapi obrolan saya. Paling bisa deh. (eky)



