Contact Us
EnglishIndonesia

Bangkitnya Generasi Gadget; Keakraban Sosial

Ada pepatah dalam bahasa Jawa: “Mangan Ora Mangan Asal Ngumpul“. Yang artinya, makan atau tidak, yang penting adalah berkumpul. Ungkapan itu mewakili mind-set masyarakat Indonesia. Hal itu pun berlaku bagi banyak di antara generasi muda. Sosialisasi adalah esensi dari kehidupan.

Pertemuan pribadi, komunikasi yang saling bertemu muka, face-to-face, dan bergaul adalah kegiatan yang paling menyenangkan untuk mengisi waktu. Sebuah peristiwa dijadikan alasan untuk bertemu, berkumpul dan bergaul. Hari pertama sekolah, hari terakhir sekolah, pertemuan setelah sepulang sekolah, arisan, perayaan ulang tahun, apa pun, bisa dijadikan alasan untuk bertemu.

Masih terbayang di kepala, ingatan mengenai zaman dulu, di mana para ibu adalah tokoh utama tempat seluruh anggota keluarga bergantung. Di mana meja makan adalah tempat berkumpulnya seluruh anggota keluarga. Saat itu sama sekali tak ada peralatan canggih. Kecuali telepon sesekali digunakan untuk mengatur pertemuan dan membuat janji.

Riset menunjukkan bahwa di tahun ‘80-an, para ibu, wanita, mulai tertarik untuk keluar dari rumah untuk ikut berpartisipasi dengan banyak kegiatan di luar rumah. Jumlah wanita pekerja terus meningkat. Hingar-bingar kehidupan di perkotaan membuat kita jauh dari rumah. Kemudian banyak mall dibangun, juga kafe-kafe restoran dan tempat-tempat makan lain, pusat hiburan, tempat untuk bersosialisasi dan bergaul.

Stasiun televisi swasta menjadi tren baru, yang membawa perubahan setelah sekian lama dikuasai satu-satunya stasiun televisi milik pemerintah. Televisi adalah instrumen pertama untuk mengubah tayangan di rumah. Pusat kegiatan keluarga tak lagi ada di meja makan lagi. Ruang keluarga, di mana televisi ditempatkan, menjadi tempat berkumpul seluruh anggota keluarga.

Di akhir era ’80-an, televisi menjadi magnet baru dalam setiap rumah tangga di Indonesia. Akan tetapi, hal ini tak membuat anak muda betah di rumah. Ada semacam pertemuan di jalan. ” JJS” atau Jalan-jalan Sore yang berarti berjalan-jalan pada sore hari. Lokasi tempat pertemuan biasanya di dekat pusat perbelanjaan. Daerah Blok M, Kebayoran dan Menteng adalah beberapa tempat yang terkenal.

Kemudian ada era radio yang mudah dibawa dan walkman. Musik dan radio memegang peranan penting di kalangan anak muda. Musik adalah gaya hidup, tempat untuk menyalurkan pengalaman emosional sekaligus tempat mengekspresikan emosi. Radio tersegmentasi menjadi beberapa bagian; radio untuk remaja, radio untuk wanita, radio untuk karyawan, bahkan ada radio Dang-dut, radio Jazz, dan radio humor.

Kemudian di awal tahun ’90-an, kita memasuki komputer pribadi. Komputer digunakan di rumah dan tak hanya sebagai alat untuk bekerja. Harga komputer menjadi cukup terjangkau. Kemudian, bukan hanya PC tetapi juga keajaiban internet, jalan raya menuju dunia maya melanda kehidupan manusia. Masa kini telah menandai datangnya milenium baru. Mari kita melihat keseharian hidup seorang pemuda kota biasa. Beberapa temuan dari beberapa grup diskusi yang berfokus dikalangan anak muda. Gadget/ Peralatan telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan mereka, terutamanya telepon selular, atau lebih dikenal sebagai, Handphone, atau HP (” Ha-Pe”), dan Laptop atau PC.

Gadget atau peralatan ini adalah “Keberadan” mereka. Untuk memahami lebih jauh lagi mengenai konsep ” Keberadaan” anak muda yang berusia antara 19 – 23 tahun ini Sepertinya arti” Keberadaan” adalah untuk diakui, diterima, dikenal dan terhubung dengan teman. Oleh karena itu, di dalam benak mereka, Gadget ini adalah cara untuk memiliki keberadaan mereka. Keberadaan itu dinilai dari jumlah teman. Semakin dia bergaul, maka keberadaanya akan semakin eksis. Komentar yang banyak dilontarkan anak muda: “Kita dilihat dari banyaknya teman-teman yang kita miliki.”

Sikap ini sepertinya adalah penyebab bertambah tajamnya peningkatan penjualan produk telekomunikasi. Ponsel digunakan untuk Voice-Call, SMS, musik dan untuk mengambil dan mengirimkan foto. Anak muda rata-rata dapat mengirim SMS berkali-kali sepanjang hari, bahkan saat ada di kelas. Pesan-pesan yang dikiirim biasanya berkenaan dengan hal-hal sehari-hari, misalnya menanyakan kesibukan temannya atau menanyakan gosip atau berita terbaru.

Mereka bahkan mengakui kebanyakan dari isi SMS itu tidak penting, tetapi yang lebih penting adalah mengirimkannya. Panggilan telepon melalui ponsel lebih sedikit dilakukan dibandingkan dengan mengirimkan dan menerima SMS. Jelas terlihat bahwa keterbatasan dana bagi anak muda telah membuat kartu pra-bayar lebih diminati. Layanan kartu pra-bayar ini bersifat dibayar di muka dengan harga yang sudah pasti. Secara otomatis memberikan kendali atas jumlah pemakaian dan juga dana yang dihabiskan. Rata-rata mereka menghabiskan Rp.30.000 sampai Rp. 150.000.- per bulan untuk komunikasi ponsel.

Sementara batasan harga Ponsel yang digunakan berkisar antara Rp.1.5 juta sampai Rp.2.5 juta. Tentu saja orangtua mereka membantu pembelian ponsel, baik dalam bentuk uang saku yang sebelumnya mereka tabung, atau dengan membelikannya secara langsung untuk mereka.

Panggilan telepon biasanya banyak dilakukan pada malam hari, melalui ponsel mereka atau lebih sering, melalui telepon rumah. Menelepon dengan telepon rumah akan dibayarkan orangtuanya. Pada malam hari, banyak waktu dihabiskan untuk bicara dengan teman-teman, yang sering kali menjengkelkan orangtua Biasanya mereka memakai telepon hingga berjam-jam. Menurut mereka larut malam, di atas pukul 10 malam, adalah waktu terbaik untuk menelepon.

Laptop dan PC juga telah merubah pola sosial anak muda. Prioritas utama pemakaian komputer, selain untuk tugas sekolah, adalah untuk internet.

Internet digunakan untuk mengirim email, chatting, dan Game online, untuk mendownload musik dan browsing. Situs paling terkenal untuk mendapat teman-teman baru atau menemukan teman-teman lama, seperti Friendster atau Facebook.

Mereka yang tak mempunyai laptop atau PC di rumahnya tak selalu bisa digunakan, mereka pergi ke kios internet atau ‘warnet. Tapi, waktu yang dihabiskan di warnet terbatas, karena mereka harus merogoh uang saku lebih banyak untuk membayar waktu penggunaan internet di warnet.

Waktu yang dihabiskan untuk internet biasanya panjang juga, terutama jika sudah berkomunikasi dengan teman-teman. mereka akan menghabiskan waktu 2-3 jam di internet per hari. Malam hari juga dianggap waktu terbaik untuk membuka internet.

Lamanya waktu yang dihabiskan menggunakan gadget berakibat berkurangnya waktu yang dihabiskan bersama keluarga dan berkurangnya waktu yang dihabiskan di media lain, seperti menonton televisi, film dan juga berita yang semuanya dapat juga diakses melalui internet.

Yanti B. Sugarda

Telah dipublikasikan di Garuda Magazine - Edisi Maret 2009

Lihat opini lainnya »