Contact Us
EnglishIndonesia

Wanita dalam Politik dan Perubahan Persepsi

Wanita di Panggung Politik
Menurut survei yang dilakukankan oleh Polling Center di penghujung tahun 2008, mayoritas masyarakat pemilih di wilayah perkotaan dan juga pedesaan merasa masih kurang mendapat informasi yang jelas mengenai hal-hal yang berkaitan dengan Pemilihan Umum tahun 2009. Akan tetapi, mereka lebih suka bersikap “wait-and-see”, menunggu, daripada berusaha lebih banyak mencari informasi mengenai Pemilihan Umum tahun 2009.

Sungguh mengherankan bahwa sikap pasif semacam ini yang melanda kebanyakan masyarakat pemilih tak lantas merintangi adanya perubahan pandangan dalam masyarakat tradisional, khususnya pandangan masyarakat terhadap wanita yang terjun ke dunia politik.

Semakin banyak pemilih mengakui dan menerima adanya pertambahan jumlah wanita yang turut mengambil bagian di dunia politik. Bukan itu saja, tapi lebih dari setengah masyarakat berpendapat bahwa tingkat kemampuan wanita yang duduk di parlemen semakin bertambah. Sementara wanita yang duduk di kursi pemerintahan dipercaya dapat memperbaiki kinerja pemerintah.

Unsur apakah yang banyak diasosiasikan dengan wanita di kancah politik? Diketahui bahwa lebih dari setengah masyarakat pemilih menganggap wanita tak bersikap terlalu kejam dalam menjalankan politiknya. Ini menyiratkan bahwa wanita dalam kancah politik, baik di tingkat legislatif maupun di tingkat eksekutif  dipercaya dapat lebih memaklumi sedikit aksi kekasaran dan kekejaman  dibandingkan dengan rekan pria mereka.

Wanita biasanya diasosiasikan dengan perhatian dan kasih sayang, dan ini membantu menjawab minat dan kebutuhan para pemilih. Wanita dalam politik dipercaya oleh lebih dari setengah masyarakat pemilih sebagai hal yang dapat mengurangi korupsi di pemerintahan. Menurut pemilih pria, wanita lebih jujur dan dapat dipercaya,  dan lebih peduli pada orang lain. Kesanggupan dalam kaitan dengan dan kecerdasan. Kini dianggap  tak ada perbedaan besar antara pria dan wanita dalam khazanah politik.

Sementara itu, meskipun ada perubahan pada pandangan tradisional tentang wanita dalam politik. Masih ada kepercayaan kuat mengenai penunjukkan peranan pria dan wanita dalam peran kepemimpinan.

Konsep dari karakteristik seorang pemimpin masih cenderung mengenai kekuatan fisik dan mental, dan hilangnya keberadaan sifat rapuh dan lemah.

Wanita Sebagai Pemilih
Kemajuan peranan wanita di dalam politik sebagian besar tergantung pada bagaimana pemilih menggambarkan mereka. Karena jumlah pemilih pria dan wanitanya sama, maka penting sekali bagi para kandidat wanita untuk memperoleh dukungan penuh dari para pemilih wanita, untuk menangkis pendapat pemilih pria.  Ada perbedaan diantara kandidat pria dan kandidat wanita. Mayoritas pemilih wanita agaknya masih menganggap pria lebih berpengalaman dan lebih terbiasa. Pemilih wanita melihat pria memenuhi syarat kepemimpinan dan memiliki karakter yang kuat.

Di sisi lain pemilih wanita menilai kandidat wanita memiliki kepribadian yang lebih baik lebih perasa, dan akan menarik perhatian publik pada aspirasi wanita

Diketahui setengah wanita pemilih menganggap tak ada perbedaan antara kandidat pria maupun wanita. Mereka akan memilih salah satunya yang dianggap memiliki kemampuan dan dapat mewakili para pemilih.

Pada akhir tahun 2008, sepertiga wanita pemilih agaknya masih punya kecenderungan kuat pada konsep tradisional bahwa kepemimpinan lebih pantas di pegang oleh pria.

Persepsi terus berubah. Seperti pengalaman Pemilihan Umum di tahun 2004, di mana saat itu penilaian terus berubah. Itu terjadi dalam jangka waktu sebulan atau seminggu sebelum Pemilu. Pada saat itu kami hanya dapat menduga-duga pandangan masyarakat pemilih pada hari Pemilihan Umum.

Yanti Sugarda
Polling Center
10 Desember, 2008

Telah dipublikasikan di Garuda Magazine - Edisi Januari 2009